1. Ok got that

     

  2. Skripsi ?!

    sekarang sudah masuk semester akhir, bahkan teman-teman saya sudah ada yg wisuda (lumayan banyak). Tapi saya masih ada yang ngulang mata kuliah dan bisa sih memulai skripsi, tapi keinginan untuk itu tuh sulit muncul. Malah berbagai distraksi yang bermunculan seperti anak kucing.

    Jadi kesimpulannya, halo skripsi ! apa kabar ??? aku raisa …… memulai.

     

  3. Hal yang Selalu Membuat Hati Sakit

    Setiap hari, jika saya kuliah pasti lewat lampu merah dago. Disitu, banyak orang yang tidak mampu selalu meminta-minta kepada orang-orang yang sedang menunggu di lampu merah tersebut. Sampai banyak anak kecil yang turut serta meminta-minta. Secara batin saya ingin memberi tapi setelah mengetahui fakta bahwa orang jalanan tersebut memiliki keuntungan yang besar bahkan terlampau besar untuk hal seperti meminta -minta, membuat saya untuk berhenti untuk memberi. Dilain pihak, ada orang yang tidak mampu juga tetapi mereka bekerja sebagai loper koran atau penjual jasa sol sepatu, yang mirisnya saya tidak bisa memberi karena saya tidak sedang membutuhkan apa yang mereka berikan dan saya terkadang sangat berat untuk mengeluarkan uang untuk membeli jasa atau barang dagangan mereka yang berikan. Sungguh sakit.

    Terbesit dipikiran saya, ingin saya selalu memberi kepada mereka yang berusaha sebagai langkah beramal sekaligus apresiasi pekerjaan yang mereka lakukan karena mereka rela untuk tidak meminta-minta demi mendapat sesuap nasi, mereka lebih memilih untuk bekerja daripada menjadi benalu. Sekali lagi, saya tertabrak oleh dinding serba keterbatasan. Saya belum berpenghasilan dan saya belum kuat mental karena saya masih selalu ingin memuaskan nafsu saya untuk belanja figure dan lainnya.

    Saya teringat akan kejadian ketika saya masih duduk di bangku SD, kalau tidak salah saya masih duduk di kelas 4 SD. Pada saat itu ketika shalat tarawih, setiap hari saya selalu infaq ke mesjid kurang lebih 2rb-5rb. Untuk  jumlah uang segitu untuk ukuran anak SD seperti saya tidaklah sedikit, tapi saya senang untuk berinfaq. Pada suatu ketika uang jajan saya tinggal sedikit, lalu saya minta uang ke ibu untuk jajan di warung. Lalu ibu bertanya kepada saya “Loh, ka ? bukannya kamu udah dapet uang jajan tiap sekolah ya ? kan bulan puasa. Emang kaka jajan pas puasa ?”. Karena saya masih polos saya langsung berterus terang saja kalau uang jajan yang diberikan ibu hampir semuanya saya sisihkan buat masuk kencleng mesjid. Bukan sebuah nasihat atau perkataan yang menaikan moral tapi saya dimarahin, beliau berkata ngapain masukin infaq banyak-banyak ? Sejak saat itu saya tidak pernah berinfaq banyak-banyak, paling banyak juga 2ribu.  Dari sini saya belajar, kalau kita memberi lebih. Apakah orang-orang di dekat saya setuju/mensupport tindakan saya ? Baiklah kalau di kasus ini saya memang agak salah karena saya memberikan hampir semua uang jajan saya. Tapi wajar tidak kalau saya bersedekah lalu dimarahin ? bukan di beri nasihat atau diluruskan. Atau contoh lainnya, ketika anda beli koran dari seorang loper koran (yang niatnya ingin bersedekah) dengan uang lebih dan kembaliannya anda bilang untuk disimpan saja dan pacar anda mengetahuinya dan memarahi anda habis-habisan. Wajar tidak ? tentu tidak kan ? Maka dari itu yang membuat prihatin selain kita tidak bisa memberi adalah ketika orang yang berada di dekat anda tidak mensupport tindakan anda.

    Akhir kata, saya ingin selalu merasa miris dan sakit ketika tidak bisa memberi kepada mereka yang tidak mampu dan mereka berusaha untuk tidak meminta-minta dan juga sakit hati ketika orang yang berada di dekat anda tidak mendukung ketika anda memberi lebih. Emang ada yang salah dengan hal itu ?

     
  4. (Source: notsuki)

     
  5. Bandung

    (Source: firdhausyiadinda)

     
     

  6. "Remember that if you start listening to others telling you what you should or should not be doing - it will become a habit and you will end up living the life of others until the day you die."
    — Danny Choo
     
  7. Foto dari timbunan harta peninggalan zaman dahulu kala. Ini @finafince ketika SMP kelas 3 loh. Saat pertama kali saya bertemu dengannya

     
  8. finapina:

    Mudik 2013

    akhirnya mudik bareng

     
  9. (Source: auudacity)

     
  10. (Source: auudacity)

     

  11. Are You With The Right Partner ?

    During a seminar, a woman asked,” How do I know if I am with the right person?”

    The author then noticed that there was a large man sitting next to her so he said, “It depends. Is that your partner?” In all seriousness, she answered “How do you know?” Let me answer this question because the chances are good that it’s weighing on your mind
    replied the author.

    Here’s the answer.

    Every relationship has a cycle… In the beginning; you
    fall in love with your partner. You anticipate their calls,
    want their touch, and like their idiosyncrasies. Falling in love wasn’t hard. In fact, it was a completely natural and spontaneous experience. You didn’t have to DO anything. That’s why it’s called “falling” in love.

    People in love sometimes say, “I was swept of my feet.”Picture the expression. It implies that you were just standing there; doing nothing, and then something happened TO YOU.

    Falling in love is a passive and spontaneous experience. But after a few months or years of being together, the euphoria of love fades. It’s a natural cycle of EVERY relationship.

    Slowly but surely, phone calls become a bother (if they come at all), touch is not always welcome (when it happens), and your spouse’s idiosyncrasies, instead of being cute, drive you nuts. The symptoms of this stage vary with every relationship; you will notice a dramatic difference between the initial stage when you were in love and a much duller or even angry subsequent stage.

    At this point, you and/or your partner might start asking, “Am I with the right person?” And as you reflect on the euphoria of the love you once had, you
    may begin to desire that experience with someone
    else. This is when relationships breakdown.

    The key to succeeding in a relationship is not finding the right person; it’s learning to love the person you found.

    People blame their partners for their unhappiness and look outside for fulfillment. Extramarital fulfillment comes in all shapes and sizes.

    Infidelity is the most common. But sometimes people turn to work, a hobby, friendship, excessive TV, or abusive substances. But the answer to this dilemma does NOT lie outside your relationship. It lies within it.

    I’m not saying that you couldn’t fall in love with someone else. You could. And TEMPORARILY you’d feel better. But you’d be in the same situation a few years later.

    Because (listen carefully to this):

    The key to succeeding in a Relationship is not finding the right person; it’s learning to love the Person you found.

    SUSTAINING love is not a passive or spontaneous experience. You have to work on it day in and day out. It takes time, effort, and energy. And most importantly, it demands WISDOM. You have to know
    WHAT TO DO to make it work. Make no mistake about it.

    Love is NOT a mystery. There are specific things you can do (with or without your partner), Just as there are physical laws of the universe (such as gravity), there are also laws for relationships. If you know how to apply these laws, the results are predictable.

    Love is therefore a “decision”. Not just a feeling.

    Remember this always: God determines who walks into your life. It is up to you to decide who you let walk away, who you let stay, and who you refuse to let GO!

     

  12. "Kita tak perlu mengerti cinta untuk merasakan cinta *cough"
    — Fina dwi putri
     
  13. Peluk